
Aktivis Maluku mendesak Gubernur mencopot Komisaris Bank Maluku-Malut karena menduga klarifikasi "kesalahpahaman" dalam kasus perselingkuhan itu hanya skenario untuk mengamankan jabatan.
Aktivis Maluku, Mujahidin Buano.
SuaraEnamDua, Ambon: Isu dugaan perselingkuhan yang menyeret nama Komisaris Bank Maluku-Malut, Michael Papilaya, kian memanas. Aktivis Maluku, Mujahidin Buano, meragukan klarifikasi Ratna Dian Fatawary yang menyebut persoalan tersebut sebagai kesalahpahaman. Ia menduga ada skenario di balik pernyataan Ratna, yang dipicu oleh "tawaran dan tekanan."
Sebelumnya, publik dihebohkan dengan desakan di media sosial agar Gubernur Maluku mencopot Michael Papilaya dari jabatannya. Di tengah situasi ini, Ratna muncul membantah isu perselingkuhan dan menyebut insiden yang dialaminya hanyalah kesalahpahaman. Padahal, sebelumnya Ratna telah melaporkan istri Michael Papilaya ke polisi atas dugaan penganiayaan.
Menanggapi hal itu, Mujahidin Buano mengajak publik berpikir kritis dan mempertanyakan akar masalah yang sebenarnya.
"Benar ada klarifikasi dari Ratna yang menyebut ini soal kesalahpahaman. Namun, pernahkah publik bertanya, kesalahpahaman jenis apa yang sampai membuat seorang istri sah melakukan penganiayaan secara fisik?" ujar Mujahidin kepada wartawan, Senin, 14 Juli 2026.
Menelisik Lewat Teori Frustration and Aggression
Untuk membedah fenomena ini, Mujahidin menggunakan pendekatan psikologi sosial melalui teori Frustration and Aggression (1939) dari John Dollard dkk, yang disempurnakan oleh Leonard Berkowitz.
Teori tersebut menjelaskan bahwa tindakan agresi (kekerasan) selalu didahului oleh rasa frustrasi. Ketika seseorang disakiti atau terhalang tujuannya, energi marahnya akan menumpuk. Namun, manusia kerap tidak bisa menyerang sumber frustrasi utamanya secara langsung karena takut akan balasan atau karena sumbernya abstrak.
"Akibatnya, terjadi yang namanya displacement atau pemindahan amarah kepada target pengganti (scapegoat) yang dianggap lebih lemah atau aman untuk dilawan. Dalam konteks ini, ada dugaan kuat mengapa istri sah meluapkan kemarahannya kepada Ratna," jelas Mujahidin.
Dugaan Skenario untuk Mengamankan Jabatan
Berangkat dari analisis tersebut, Mujahidin mengimbau masyarakat Maluku tidak mudah terkecoh dengan narasi kesalahpahaman yang ditampilkan ke publik. Ia mencurigai adanya skenario yang sengaja dirancang di balik layar.
"Masyarakat jangan mau dibodohi oleh dugaan skenario yang dimainkan oleh kedua perempuan ini. Patut diduga kuat bahwa narasi damai atau salah paham ini telah disetir oleh Komisaris Bank Maluku-Malut, Michael Papilaya, demi mengamankan posisi dan jabatannya yang kini sedang digoyang," tegasnya.
Desakan pencopotan Michael Papilaya bukan tanpa alasan. Sebelumnya, sejumlah elemen mahasiswa telah berunjuk rasa meminta Gubernur mencopot Dirut dan Komisaris Bank Maluku-Malut terkait dugaan pemberian remunerasi yang tidak sesuai aturan . Bahkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) didesak mencabut pengangkatan Michael Papilaya sebagai Komisaris Independen karena diduga melanggar aturan dengan terlibat aktif dalam kegiatan partai politik .
Ancam Gelar Demonstrasi Besar-besaran
Mujahidin menegaskan akan mengonsolidasikan massa untuk melakukan aksi demonstrasi besar-besaran jika Pemegang Saham Pengendali (PSP) tidak segera mengambil sikap.
"Kami pastikan kasus ini tidak akan mandek. Jika Pemegang Saham Pengendali tidak segera mengambil sikap, saya bersama kawan-kawan akan turun ke jalan melakukan demonstrasi besar-besaran untuk menindaklanjuti dan mendesak kasus ini sampai Komisaris tersebut benar-benar dicopot dari jabatannya," tegas Mujahidin.
Menutup pernyataannya, Mujahidin Buano mendesak Gubernur Maluku selaku PSP Bank Maluku-Malut untuk segera mengambil langkah tegas. Ia meminta pemerintah daerah mengusut tuntas kasus ini secara mendalam dan mencopot Michael Papilaya.
"Langkah tegas ini sangat penting untuk memberikan pelajaran moral sekaligus menjaga integritas kepemimpinan serta marwah institusi daerah di Maluku agar tetap bersih dan dipercaya masyarakat ke depan," pungkas Mujahidin.